TikTok
Sejumlah Remaja dalam video Kompilasi TikTok

TikTok, sebuah aplikasi yang dibuat oleh perusahaan asal Tiongkok Bytedance pada tahun 2016 silam, selalu menghiasi linimasa Internet Indonesia akhir-akhir ini. Ketenaran aplikasi tersebut sangatlah luas, remaja-remaja masa kini hingga bahkan anak kecil pun menggunakan aplikasi ini dalam mengekspresikan kreatifitasnya.

Tetapi, tahukan kalian kalau TikTok sendiri juga digandrungi para remaja Jepang?

Berdasarkan presentase pengunduhan, 30 persen dari pengunduhan aplikasi ini berasal dari Jepang. Tak ayal, aplikasi ini menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak diunduh di App Store dalam waktu sebulan. Ini sama saja seperti Vine yang pernah dirilis ditahun 2012, namun tak lama, aplikasi tersebut ditutup pada tahun 2016 dan akhirnya kejayaan Vine digeser oleh platform lain yaitu MixChannel.

Nah bagaimana sebenarnya TikTok bisa menjadi aplikasi yang cukup populer di Jepang? Penelusuran dari Livedoor News sendiri membuktikan bahwa TikTok melakukan adaptasi pada pangsa pasar Jepang.

Gak lebih dari setahun, aplikasi TikTok ini telah menjadi ‘rumah’ bagi sejumlah video yang dianggap unik oleh para pemuda. Video yang hampir serupa dengan khas Vine masih populer disana, namun, ada juga video-video komedi khas Jepang yang gampang tersebar luas sana. Video tarian kadang mendominasi linimasa aplikasi tersebut.

Apa sih yang membuat aplikasi ini bisa menggaet para penggunanya terutama anak muda? Menurut prespektif sejumlah pengguna kasualnya, aplikasi tersebut ‘melepaskan’ diri dari waktu. Ya, hal ini sangat sekali tampak, apalagi dibagian Musik yang aplikasi ini sediakan. Soalnya, tahun ini saja, aplikasi populer tersebut baru saja menambahkan lagu-lagu tahun 2010-2015an kedalam playlist mereka.

Aneh sih, tetapi sejumlah lagu tersebut ternyata ada juga lho yang menyukainya. Seperti lagu dari Koda Kumi yang dibuat pada tahun 2010, lagu yang ia buat tersebut viral dan menjadi trend besar! Sejumlah media di Jepang pun bahkan mengangkat viralnya lagu Koda Kumi kedalam berita.

Baca Juga Artikel Berikut!  Yuk Intip Serunya Menjajal Naik LRT Jakarta

Aplikasi ini telah menjadi sebuah ekosistem baru dalam dunia maya di Jepang. Aplikasi ini terbantu oleh tangan para ‘influencer’ yang membuat nama aplikasi tersebut menjadi tenar hingga kini. Influencer yang ikemen dan kawaii tersebut kadang muncul dalam sejumlah video kompilasi.

Kini, tak ada tempat yang lebih baik dari TikTok untuk menggambarkan cara pandang anak muda di Jepang dalam memandang Pop Culture. Namun, semua tren tersebut tak ada yang abadi. Terlebih, beberapa bulan terakhir sejumlah pengguna yang berusia 40 tahun mulai menggunakan aplikasi ini. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa aplikasi MixChannel akhirnya tidak populer lagi dan mulai ditinggalkan para penggunanya. MixChannel sendiri bahkan tidak berusaha untuk embaur dengan budaya pop culture dan malah menjadi tempat bagi orang tua untuk menjadi sekedar tempat untuk pamer anak-anaknya.

Walaupun kini TikTok masih merajai pangsa pasar domestik Jepang, masih ada harapan bagi platform-platform lain untuk berkuasa dalam pangsa pasar tersebut. Caranya? Membaur dengan budaya pop culture yang ada di Jepang.


Artikel ini dilansir dari situs JapanTimes dengan judul “TikTok video app has become a petri dish for youth culture

 

Leave a Reply